Memoar
Rekat yang Retak
Yohan
Dwi Apriyanto
Ada sebuah seni
kuno dari Jepang yang selalu berhasil membuat saya terpaku setiap kali
merenungkannya: *Kintsugi*. Sebuah tradisi merestorasi mangkuk atau keramik
yang pecah dan patah menjadi serpihan. Alih-alih menyembunyikan retakan
tersebut dengan lem transparan, atau bahkan membuang wadah yang rusak itu ke
tempat sampah, para pengrajin *Kintsugi* justru memperlakukan pecahan itu
dengan penuh penghormatan. Mereka mengumpulkan setiap serpihan dengan sabar,
menyatukannya kembali, lalu merekatkannya menggunakan sejenis pernis khusus
yang telah dicampur dengan serbuk emas murni, perak, atau platinum. Hasil akhir
dari proses ini sungguh di luar dugaan. Keramik yang tadinya hancur
berkeping-keping itu kembali utuh menjadi wadah yang baru, namun kini dihiasi oleh
garis-garis emas yang berkilau di sepanjang bekas retakannya. Ia tidak lagi
mulus seperti sedia kala, tetapi ia menjadi jauh lebih indah, unik, dan
bernilai justru karena ia pernah hancur. Goresan emas itu tidak menutupi
sejarah kerusakan, melainkan merayakan proses pemulihannya. Malam ini, di paruh
tahun 2026, ketika saya sedang duduk terdiam memandangi refleksi diri di balik
beningnya kaca jendela kamar, filosofi *Kintsugi* itu mendadak melintas kembali
dalam ingatan saya. Saya melihat sepasang mata yang menatap balik dari pantulan
kaca, dan dalam keheningan malam yang sunyi itu, dada saya berdesir hangat saat
sebuah bisikan lirih keluar dari dalam hati: *"Terima kasih karena sudah
memutuskan untuk bertahan, wahai diri yang pernah patah."* Beberapa tahun
yang lalu, kata "patah" bukan sekadar bumbu metafora puitis dalam
catatan harian saya. Kata itu adalah sebuah realitas yang luar biasa mencekik.
Saya pernah berada di satu titik terendah dalam hidup, sebuah fase kelam di
mana seluruh pilar kehidupan yang telah saya bangun dengan cucuran keringat dan
air mata runtuh secara bersamaan tanpa sempat saya antisipasi. Entah itu berupa
impian karier yang kandas di tengah jalan, jalinan hubungan yang hancur
berantakan, atau hilangnya rasa percaya pada kemampuan diri sendiri secara
total. Kala itu, setiap pagi terasa seperti sebuah hukuman yang mengerikan dan
malam hari menjelma menjadi ruang interogasi yang dingin. Isi kepala saya tidak
pernah berhenti berisik oleh rentetan pertanyaan yang menyudutkan: *Mengapa harus
aku yang mengalami ini? Di mana letak kesalahanku? Apakah aku memang
ditakdirkan untuk tidak berharga di dunia ini?* Saat berada di fase hancur
tersebut, dunia luar terasa begitu bising dengan ekspektasi dan penghakiman,
namun kebisingan yang paling merusak sebenarnya justru berasal dari dalam dada
saya sendiri. Menjadi manusia yang patah berarti menjadi makhluk yang luar
biasa ringkih. Sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri yang keliru, saya
memilih untuk menutup diri rapat-rapat dari dunia luar. Saya melipat jarak dari
keramaian, menjauhi lingkaran pertemanan, dan membiarkan diri saya tenggelam
semakin dalam ke dalam kubangan rasa kasihan pada diri sendiri (*self-pity*).
Saya sempat berpikir bahwa sekali kita dipatahkan oleh keadaan, kita akan
selamanya menjadi "barang cacat" yang tidak lagi layak untuk mengejar
kebahagiaan atau mencicipi kesuksesan di masa depan. Saya terus-menerus menolak
kenyataan pahit yang terjadi dan mengutuk garis takdir yang terasa begitu tidak
adil bagi hidup saya. Namun, air mata yang jatuh membasahi lantai kamar tidak
pernah mengubah keadaan apa pun. Waktu terus berjalan dengan angkuh,
mengabaikan kedukaan dan ratapan saya yang tak berkesudahan. Titik balik dalam
hidup saya akhirnya datang bukan melalui sebuah keajaiban besar yang dramatis
atau datangnya pertolongan instan yang magis. Titik balik itu mendarat secara
sangat halus, berupa sebuah momentum penerimaan diri (*self-acceptance*) yang
sunyi di suatu malam. Pada momen itu, saya merasa sangat lelah. Lelah untuk
terus bersembunyi, lelah untuk terus berpura-pura kuat, dan lelah untuk
mengutuk masa lalu. Saya memutuskan untuk berhenti menolak rasa sakit itu. Saya
membiarkan diri saya menangis sepuasnya tanpa batas, mengakui secara jujur
kepada diri sendiri bahwa saya sedang tidak baik-baik saja, dan memilih untuk
memeluk erat-erat diri saya yang sedang hancur berantakan tersebut. Proses
pemulihan (*healing*) dari sebuah kepatahan ternyata tidak pernah berbentuk
sebuah garis lurus yang konstan naik ke atas. Ada hari-hari di mana saya merasa
sudah sangat kuat dan siap menaklukkan dunia, namun keesokan harinya saya bisa
kembali menangis tersedu-sedu hanya karena tidak sengaja mendengar sebuah lagu
lama atau melewati sebuah tempat yang menyimpan memori masa lalu. Meskipun
demikian, saya menolak untuk menyerah. Langkah kecil untuk mau bangun dari
tempat tidur setiap pagi, merapikan selimut, dan membuka jendela kamar
lebar-lebar agar sinar matahari bisa masuk, adalah cairan pernis emas yang
perlahan namun pasti merekatkan kembali serpihan-serpihan jiwa saya yang sempat
berserakan. Saya mulai belajar untuk memaafkan masa lalu, memaafkan orang-orang
yang pernah menggoreskan luka, dan yang paling sulit dari segalanya: memaafkan
diri saya sendiri atas keputusan-keputusan keliru yang pernah saya ambil di
masa lalu. Kini, setelah waktu berlalu, goresan luka itu tidak lagi terasa
perih. Rasa sakitnya telah menguap, meninggalkan sebuah penanda atau "tato
sejarah" di dalam jiwa bahwa saya pernah bertarung hebat dengan badai
kehidupan—dan saya berhasil keluar sebagai pemenang. Kerapuhan yang pernah saya
alami di masa lalu justru menempa saya menjadi pribadi yang memiliki empati
jauh lebih dalam kepada sesama, mental yang jauh lebih adaptif terhadap
perubahan, serta cara pandang yang jauh lebih bijaksana dalam menghargai setiap
detik kehidupan di masa sekarang. Retakan-retakan masa lalu itu kini telah
menjelma menjadi garis-garis emas yang membuat karakter saya berkilau lebih
indah. Melalui lembar buku antologi nasional ini, saya ingin mengirimkan sepucuk
surat cinta yang tulus kepada setiap pembaca di seluruh penjuru Indonesia yang
mungkin saat ini dadanya sedang terasa remuk, yang impian besarnya baru saja
dipatahkan oleh realitas hidup, atau yang hatinya sedang hancur
berkeping-keping karena kehilangan. Kepada dirimu yang saat ini sedang patah:
menangislah jika itu bisa meringankan beban sesak di dadamu, beristirahatlah
sejenak jika langkah kakimu sudah terasa terlalu berat untuk melangkah. Jangan
pernah terburu-buru memaksa dirimu untuk langsung tertawa tegap atau
berpura-pura bahagia di hadapan orang lain. Namun, tolong berjanjilah satu hal
pada dirimu sendiri: jangan pernah membuang serpihan-serpihan dirimu yang
sedang hancur itu. Kumpulkan kembali potongan-potongan tersebut dengan penuh
kesabaran. Rekatkan ia kembali satu demi satu dengan menggunakan benang-benang
keberanian, penerimaan yang tulus, dan cinta kasih yang tanpa syarat pada
dirimu sendiri. Percayalah pada proses waktu. Suatu hari nanti, di masa depan
yang cerah, Anda akan berdiri tegak di depan cermin, memandangi guratan
garis-garis emas di jiwa Anda, dan menyadari sebuah kebenaran yang indah: bahwa
Anda terlahir kembali sebagai pribadi yang jauh lebih indah, jauh lebih kuat,
dan jauh lebih berharga justru karena Anda pernah patah namun dengan gagah
berani menolak untuk menyerah pada keadaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar