Sabtu, 06 Juni 2026

Memoar Rekat yang Retak

 

Memoar Rekat yang Retak

Yohan Dwi Apriyanto

Ada sebuah seni kuno dari Jepang yang selalu berhasil membuat saya terpaku setiap kali merenungkannya: *Kintsugi*. Sebuah tradisi merestorasi mangkuk atau keramik yang pecah dan patah menjadi serpihan. Alih-alih menyembunyikan retakan tersebut dengan lem transparan, atau bahkan membuang wadah yang rusak itu ke tempat sampah, para pengrajin *Kintsugi* justru memperlakukan pecahan itu dengan penuh penghormatan. Mereka mengumpulkan setiap serpihan dengan sabar, menyatukannya kembali, lalu merekatkannya menggunakan sejenis pernis khusus yang telah dicampur dengan serbuk emas murni, perak, atau platinum. Hasil akhir dari proses ini sungguh di luar dugaan. Keramik yang tadinya hancur berkeping-keping itu kembali utuh menjadi wadah yang baru, namun kini dihiasi oleh garis-garis emas yang berkilau di sepanjang bekas retakannya. Ia tidak lagi mulus seperti sedia kala, tetapi ia menjadi jauh lebih indah, unik, dan bernilai justru karena ia pernah hancur. Goresan emas itu tidak menutupi sejarah kerusakan, melainkan merayakan proses pemulihannya. Malam ini, di paruh tahun 2026, ketika saya sedang duduk terdiam memandangi refleksi diri di balik beningnya kaca jendela kamar, filosofi *Kintsugi* itu mendadak melintas kembali dalam ingatan saya. Saya melihat sepasang mata yang menatap balik dari pantulan kaca, dan dalam keheningan malam yang sunyi itu, dada saya berdesir hangat saat sebuah bisikan lirih keluar dari dalam hati: *"Terima kasih karena sudah memutuskan untuk bertahan, wahai diri yang pernah patah."* Beberapa tahun yang lalu, kata "patah" bukan sekadar bumbu metafora puitis dalam catatan harian saya. Kata itu adalah sebuah realitas yang luar biasa mencekik. Saya pernah berada di satu titik terendah dalam hidup, sebuah fase kelam di mana seluruh pilar kehidupan yang telah saya bangun dengan cucuran keringat dan air mata runtuh secara bersamaan tanpa sempat saya antisipasi. Entah itu berupa impian karier yang kandas di tengah jalan, jalinan hubungan yang hancur berantakan, atau hilangnya rasa percaya pada kemampuan diri sendiri secara total. Kala itu, setiap pagi terasa seperti sebuah hukuman yang mengerikan dan malam hari menjelma menjadi ruang interogasi yang dingin. Isi kepala saya tidak pernah berhenti berisik oleh rentetan pertanyaan yang menyudutkan: *Mengapa harus aku yang mengalami ini? Di mana letak kesalahanku? Apakah aku memang ditakdirkan untuk tidak berharga di dunia ini?* Saat berada di fase hancur tersebut, dunia luar terasa begitu bising dengan ekspektasi dan penghakiman, namun kebisingan yang paling merusak sebenarnya justru berasal dari dalam dada saya sendiri. Menjadi manusia yang patah berarti menjadi makhluk yang luar biasa ringkih. Sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri yang keliru, saya memilih untuk menutup diri rapat-rapat dari dunia luar. Saya melipat jarak dari keramaian, menjauhi lingkaran pertemanan, dan membiarkan diri saya tenggelam semakin dalam ke dalam kubangan rasa kasihan pada diri sendiri (*self-pity*). Saya sempat berpikir bahwa sekali kita dipatahkan oleh keadaan, kita akan selamanya menjadi "barang cacat" yang tidak lagi layak untuk mengejar kebahagiaan atau mencicipi kesuksesan di masa depan. Saya terus-menerus menolak kenyataan pahit yang terjadi dan mengutuk garis takdir yang terasa begitu tidak adil bagi hidup saya. Namun, air mata yang jatuh membasahi lantai kamar tidak pernah mengubah keadaan apa pun. Waktu terus berjalan dengan angkuh, mengabaikan kedukaan dan ratapan saya yang tak berkesudahan. Titik balik dalam hidup saya akhirnya datang bukan melalui sebuah keajaiban besar yang dramatis atau datangnya pertolongan instan yang magis. Titik balik itu mendarat secara sangat halus, berupa sebuah momentum penerimaan diri (*self-acceptance*) yang sunyi di suatu malam. Pada momen itu, saya merasa sangat lelah. Lelah untuk terus bersembunyi, lelah untuk terus berpura-pura kuat, dan lelah untuk mengutuk masa lalu. Saya memutuskan untuk berhenti menolak rasa sakit itu. Saya membiarkan diri saya menangis sepuasnya tanpa batas, mengakui secara jujur kepada diri sendiri bahwa saya sedang tidak baik-baik saja, dan memilih untuk memeluk erat-erat diri saya yang sedang hancur berantakan tersebut. Proses pemulihan (*healing*) dari sebuah kepatahan ternyata tidak pernah berbentuk sebuah garis lurus yang konstan naik ke atas. Ada hari-hari di mana saya merasa sudah sangat kuat dan siap menaklukkan dunia, namun keesokan harinya saya bisa kembali menangis tersedu-sedu hanya karena tidak sengaja mendengar sebuah lagu lama atau melewati sebuah tempat yang menyimpan memori masa lalu. Meskipun demikian, saya menolak untuk menyerah. Langkah kecil untuk mau bangun dari tempat tidur setiap pagi, merapikan selimut, dan membuka jendela kamar lebar-lebar agar sinar matahari bisa masuk, adalah cairan pernis emas yang perlahan namun pasti merekatkan kembali serpihan-serpihan jiwa saya yang sempat berserakan. Saya mulai belajar untuk memaafkan masa lalu, memaafkan orang-orang yang pernah menggoreskan luka, dan yang paling sulit dari segalanya: memaafkan diri saya sendiri atas keputusan-keputusan keliru yang pernah saya ambil di masa lalu. Kini, setelah waktu berlalu, goresan luka itu tidak lagi terasa perih. Rasa sakitnya telah menguap, meninggalkan sebuah penanda atau "tato sejarah" di dalam jiwa bahwa saya pernah bertarung hebat dengan badai kehidupan—dan saya berhasil keluar sebagai pemenang. Kerapuhan yang pernah saya alami di masa lalu justru menempa saya menjadi pribadi yang memiliki empati jauh lebih dalam kepada sesama, mental yang jauh lebih adaptif terhadap perubahan, serta cara pandang yang jauh lebih bijaksana dalam menghargai setiap detik kehidupan di masa sekarang. Retakan-retakan masa lalu itu kini telah menjelma menjadi garis-garis emas yang membuat karakter saya berkilau lebih indah. Melalui lembar buku antologi nasional ini, saya ingin mengirimkan sepucuk surat cinta yang tulus kepada setiap pembaca di seluruh penjuru Indonesia yang mungkin saat ini dadanya sedang terasa remuk, yang impian besarnya baru saja dipatahkan oleh realitas hidup, atau yang hatinya sedang hancur berkeping-keping karena kehilangan. Kepada dirimu yang saat ini sedang patah: menangislah jika itu bisa meringankan beban sesak di dadamu, beristirahatlah sejenak jika langkah kakimu sudah terasa terlalu berat untuk melangkah. Jangan pernah terburu-buru memaksa dirimu untuk langsung tertawa tegap atau berpura-pura bahagia di hadapan orang lain. Namun, tolong berjanjilah satu hal pada dirimu sendiri: jangan pernah membuang serpihan-serpihan dirimu yang sedang hancur itu. Kumpulkan kembali potongan-potongan tersebut dengan penuh kesabaran. Rekatkan ia kembali satu demi satu dengan menggunakan benang-benang keberanian, penerimaan yang tulus, dan cinta kasih yang tanpa syarat pada dirimu sendiri. Percayalah pada proses waktu. Suatu hari nanti, di masa depan yang cerah, Anda akan berdiri tegak di depan cermin, memandangi guratan garis-garis emas di jiwa Anda, dan menyadari sebuah kebenaran yang indah: bahwa Anda terlahir kembali sebagai pribadi yang jauh lebih indah, jauh lebih kuat, dan jauh lebih berharga justru karena Anda pernah patah namun dengan gagah berani menolak untuk menyerah pada keadaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar