KOMITMEN KEMBALI KE INDONESIA
Rumah adalah bentuk sederhana dari dunia yang
luas dan penuh dengan sesaknya masalah di dalamnya. Bagi saya rumah adalah
tempat terbaik kedua setelah kuburan manusia, karena saya mengukur suatu
kenyamanan kepada tempat diukur berapa lama kita menempatinya, jika kita
mengaku nyaman seyogyanya kita pasti lama menghuni sesuatu yang dirasa nyaman
itu. Hal pertama yang saya sampaikan adalah bahwa rumah saya tidak hanya
ruangan tidur, ruangan makan, ruangan mandi, ruangan tamu, dan ruangan lainnya,
tapi bagi saya rumah itu adalah Indonesia. Indonesia sebagai rumah bagi saya
dengan begitu bila suatu ketika ada pihak entah itu siapa dan dimana dengan
janji apapun kepada saya, lalu dia mengintervensi saya dengan hal-hal yang
melemahkan kenyamanan saya dirumah (Indonesia) saya ini, tegas saya sampaikan,
100 juta Gulden pun saya mendapat warisan di wilayah luar rumah saya, dan hanya
Rp. 10.000, warisan di wilayah rumah saya, atas nama Tuhan Y.M.E saya lebih
memilih miskin dan berada di rumah saya sendiri karena saya percaya tidak ada
rumah yang tidak mengingkan penghuni rumahnya kelaparan dan penuh kemeskinan.
Dengan itu saya menyampaikan bahwa kesuksesan dirumah sendiri adalah bagian
dari tanggung jawab semua penghuni rumah, maka dari itu jangan takut kembali ke
rumah (Indonesia).
RENCANA PASCA STUDI,
Saya dan keluarga termasuk sering menggunakan
mobil, sepeda motor untuk keperluan perjalanan luar kota karena harganya
yang terjangkau dan akomodasinya yang mudah. Dalam perjalanan di dalam kereta
api tersebut, saya sering memandang ke luar jendela dan terlihatlah sawah-sawah
membentang luas. Selain itu pula terlihat perumahan-perumahan sederhana di
sekitar sawah yang nampak berasal dari kalangan bawah. Di saat-saat itulah
saya, di setiap kali melihat pemandangan sawah di kereta api merenung. Dengan
fasilitas yang telah Allah SWT berikan kepada masyarakat Indonesia berupa sawah
ladang yang luas terbentang dan dengan potensi kesuburan yang tinggi sehingga
bisa ditanam oleh apapun – banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran saya.
Mengapa Indonesia masih saja mengimpor beras, kedelai, gula, dan bahan-bahan
makanan pokok lainnya yang sebenarnya bahan-bahan makanan pokok itu masih bisa
ditanam di tanah kita sendiri; mengapa Indonesia begitu tergantung pada negara
lain; mengapa begitu sulit untuk menjadi negara yang independen. Miris dan
sedih hati saya. Saya bukanlah lulusan pertanian atau perkebunan, juga bukanlah
seorang pengambil kebijakan strategis di bidang tersebut. Hanya saja, saya
terus menerus merasa prihatin sambil terus bertanya-tanya, apa akar masalahnya?
Apa yang bisa saya lakukan? Sebenarnya, “ketidakmandirian” ini terjadi bukan
hanya di bidang pertanian dan perkebunan saja. Tapi hampir di seluruh bidang.
Mungkin peribahasa ini tepat untuk Indonesia: Knowledge and Resources is Power
but Character is More. Saya menyadari bahwa karakter-karakter unggul seperti
mandiri, berintegritas, jujur, pantang menyerah, berkeinginan maju, kreatif,
ikhlas (hanya bergantung kepada Allah), sabar dan mampu menahan diri; adalah
karakter-karakter yang seyogyanya dimiliki oleh bangsa ini jika kita ingin
menjadi bangsa yang maju. Perubahan karakter inilah yang saya impikan terjadi
di Indonesia, yaitu bangsa Indonesia yang lebih mandiri dan tidak bergantung
pada negara lain. Kemandirian yang tidak hanya di mulut saja, tetapi
kemandirian yang diwujudkan dengan berhentinya mengimpor bahan-bahan baku dari
luar negeri. Kemandirian yang terimplementasi dengan berhentinya menambah utang
demi utang luar negeri. Kemandirian yang termanifestasi dalam kemampuan
memproduksi infrastruktur dan berbagai device teknologi untuk bangsa kita
sendiri. Kemandirian yang terlihat dari berjamurnya start-up di Indonesia yang
mempekerjakan tenaga berlimpah dari dalam negeri, bukan dari luar negeri.
Sebagai kesimpulan, rencana saya pasca studi ini memperbaiki karakter bahwa
rumah (Indonesia) kita ini adalah suatu wadah yang tidak bisa dimajukan dengan
uang dan produksi bermacam-macam industri saja, tetapi rumah (Indonesia) kita
ini bisa maju dan berjiwa merdeka ketika bangsanya sudah hidup dengan karakter
merdeka bertoleransi bukan bertoleransi merdeka.
RENCANA KONTRIBUSI DI INDONESIA
Manusia adalah makhluk yang kecil dan lemah.
Sesungguhnya kita tidak mampu melakukan perubahan apapun tanpa pertolongan
Allah SWT. Namun pertolongan Allah SWT juga tidak akan datang pada suatu kaum
jika kaum tersebut tidak berusaha keras mengubah apa-apa yang ada di dalam
dirinya dan apa-apa yang ada di bawah kekuasaan dan kendalinya. Dengan
kelemahan yang kita – sebagai manusia – miliki, menurut saya, kita tidak perlu
menunggu mendapatkan peran lain selain peran yang telah kita miliki saat ini
untuk melakukan sebuah perubahan. Perubahan sekecil apapun bisa dilakukan
dimulai dari sekarang, dimulai dari yang terkecil, terdekat, terdalam – yaitu
diri sendiri. Dengan peran yang saya miliki saat ini, yaitu sebagai
satu-satunya dan anak pertama dari keluarga besar saya yang berstatus sarjana,
saya berusaha untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain terkait sumber pencaharian.
Walaupun keluarga berkontribusi besar terhadap nafkah kami sebagai anak, saya
berusaha untuk juga bisa menghasilkan uang sendiri dan memenuhi sebagian
kebutuhan sendiri. Untuk adik-adik saya, biaya pendidikan non-formal ditanggung
oleh saya, bukan oleh orang tua. Selain itu, saya beserta keluarga berusaha
untuk tidak bergantung pada utang bank untuk membeli rumah dan mobil walaupun
berutang ke bank syariah. Sehingga, tabungan yang kami miliki diputar terus
menerus melalui investasi syariah agar tetap mengimbangi kenaikan harga
properti. Apakah ada hubungannya? Insya Allah ada. Dengan usaha-usaha kecil
seperti itu, saya harap bisa terbangun mental yang mandiri dan independen di
dalam diri saya dan keluarga saya. Setelah itu, peran saya lainnya saat ini
adalah sebagai pendidik online. Saya berusaha untuk disiplin dan berintegritas
dengan memenuhi kewajiban saya sebagai pendidik semaksimal mungkin. Tepat waktu
dan tidak curi waktu, dan bahkan memberi lebih dari yang dibutuhkan. Jika
berjanji, maka akan saya catat dan saya berusaha keras memenuhi janji sekecil
apapun. Sebagai pendidik, saya juga berusaha jujur untuk mengatakan tidak tahu
untuk hal-hal yang memang tidak saya ketahui. Dengan peran sekecil apapun yang
saya jalani saat ini, saya harap mental mandiri, jujur, berintegritas dan
disiplin terus terjaga dan mengkarakter di dalam diri saya. Dengan mengajar
online kepada siswa-siswa kelas saya, saya harap saya bisa ikut berkontribusi
untuk terus memperbaiki pandangan masyarakat tentang Indonesia sebagai suatu
negara yang pancasila. Setelah itu, jika Allah SWT mengizinkan saya untuk
mendapatkan beasiswa studi lanjut, maka peran dan kontribusi selanjutnya yang
akan saya ambil adalah sebagai pendidik mahasiswa (dosen). Saya akan berusaha
membantu mencetak lebih banyak lagi sarjana yang berkarakter dan berjiwa
merdeka bertoleransi. Lalu, jika Allah SWT mengizinkan saya untuk mendapatkan
beasiswa studi lanjut, maka saya juga bercita-cita untuk mengajar dan mengabdi
di bidang sosial dan teknologi di Indonesia. Diharapkan peran ini akan membantu
saya untuk tetap keep up dengan perkembangan dan implementasi teknologi saat
ini. Diharapkan juga, ilmu yang saya miliki dapat terimplementasi di dalam
kehidupan masyarakat sehingga dapat membantu mengembangkan industri teknologi
dalam negeri. Ilmu dapat dipraktekkan, kualitas mengajar meningkat, secara
langsung maupun tidak langsung juga membantu perkembangan ekonomi berbasis
inovasi di Indonesia.