Sabtu, 06 Juni 2026

Jika Aku Bisa Mengulang Waktu

 

Jika Aku Bisa Mengulang Waktu

Yohan Dwi Apriyanto

 

Di lubuk hati setiap manusia, selalu ada sebuah ruang gelap yang menyimpan mesin waktu imajiner. Sebuah ruang di mana kita sering kali duduk terdiam, memutar kembali rekaman masa lalu, lalu berbisik lirik pada diri sendiri: *"Andai saja aku bisa kembali ke momen itu."* Kita adalah sekumpulan penyintas yang kerap kali dihantui oleh keputusan-keputusan keliru, kata-kata yang telanjur terucap, atau kesempatan emas yang menguap begitu saja karena ketakutan kita. Di sepanjang perjalanan hidup hingga tahun 2026 ini, saya pun tidak luput dari ritual sunyi tersebut. Ada satu fragmen waktu dalam hidup yang bertahun-tahun ingin saya renggut kembali dari masa lalu. Jika aku bisa mengulang waktu, aku ingin kembali ke sebuah sore beberapa tahun yang lalu. Sore di mana saya berdiri di sebuah persimpangan pilihan karier dan kehidupan yang krusial. Saat itu, ketakutan akan kegagalan begitu mencengkeram isi kepala saya. Saya dihadapkan pada pilihan untuk keluar dari zona nyaman, mengambil risiko besar demi mengejar panggilan jiwa, atau tetap bertahan di tempat yang aman namun perlahan mematikan kreativitas saya. Sifat penakut saya memenangkan pertempuran hari itu. Saya memilih jalan yang aman, memilih untuk tidak melangkah, dan membiarkan impian saya terkubur di bawah tumpukan alasan yang tampak logis. Dampaknya tidak langsung terasa dalam semalam. Namun, bulan-bulan berikutnya bertransformasi menjadi rentetan hari yang dipenuhi oleh sinisme dan penyesalan yang menggerogoti jiwa. Setiap kali melihat orang lain melompat berani menuju impian mereka, ada rasa sesak yang hadir di dada saya. Saya menyalahkan keadaan, menyalahkan waktu, dan yang paling parah, saya membenci diri saya yang penakut. Saya terjebak dalam lingkaran setan *analysis paralysis*, meratapi garis takdir yang sebenarnya saya pilih sendiri dengan penuh kesadaran. Selama bertahun-tahun, andai-andai itu menjadi penjara mental saya. Aku mengulang-ulang skenario di dalam kepala: *Jika aku mengambil kesempatan itu, mungkin sekarang aku sudah berada di tempat yang berbeda. Jika aku lebih berani, jalanku pasti lebih cerah.* Saya begitu sibuk menatap spion masa lalu hingga saya mengabaikan kaca depan kehidupan yang membentang luas. Saya lupa bahwa selagi saya sibuk meratapi waktu yang hilang, waktu yang baru terus berjalan dan terbuang sia-sia. Titik balik itu akhirnya datang bukan dari peristiwa yang besar, melainkan dari sebuah kesadaran diri yang mendarat secara halus di suatu malam yang sepi. Saya menyadari bahwa mesin waktu imajiner yang saya rawat selama ini adalah sebuah kebohongan yang kejam. Waktu adalah satu-satunya hukum alam yang bersifat absolut dan searah; ia tidak mengenal tombol mundur. Menghabiskan energi hari ini untuk mengutuk hari kemarin adalah sebuah kesia-siaan tertinggi yang bisa dilakukan oleh seorang manusia. Pada momen itulah, saya memutuskan untuk berdamai. Saya melihat kembali diri saya yang penakut di sore beberapa tahun lalu itu, bukan lagi dengan kemarahan, melainkan dengan rasa maklum dan empati. Diri saya yang dulu mengambil pilihan aman karena itulah kapasitas terbaik yang ia miliki saat itu untuk melindungi dirinya dari luka. Ia tidak bersalah; ia hanya belum tahu cara untuk berani. Sekarang, saya memahami sebuah rahasia penting tentang hidup. Kita memang tidak akan pernah bisa memutar kembali jarum jam untuk mengubah awal cerita kita yang berantakan. Namun, kita selalu memiliki hak penuh untuk memegang pena hari ini dan menuliskan akhir cerita yang sama sekali berbeda. Langkah kecil untuk berhenti menyesali masa lalu ternyata adalah tuas pengubah hidup yang sesungguhnya. Ketika saya berhenti menuntut masa lalu untuk berubah, seluruh energi negatif itu bergeser menjadi bahan bakar untuk membangun keberanian baru di masa sekarang. Melalui tulisan dalam antologi nasional ini, saya ingin memeluk setiap pembaca yang mungkin saat ini sedang duduk di ruang gelap yang sama, meratapi kata "andai" yang melelahkan. Jika Anda saat ini sedang berandai-andai bisa mengulang waktu untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Namun, ingatlah bahwa detik ini—saat Anda sedang membaca kalimat ini—adalah "masa lalu" dari masa depan Anda beberapa tahun yang akan datang. Jangan biarkan diri Anda di tahun-tahun mendatang kembali meratap dan berkata, *"Andai aku mulai bergerak di tahun 2026."* Berhentilah merawat penyesalan. Pengulangan waktu terbaik tidak terjadi dengan kembali ke masa lalu, melainkan dengan mengambil langkah kecil yang berani pada hari ini, menit ini, dan detik ini juga. Hiduplah di sini, melangkahlah dari sini, dan bangunlah sebuah masa depan yang membuat diri Anda di masa depan tersenyum tanpa perlu lagi berandai-andai. Dan terniang :

Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang WaktuJika Aku Bisa Mengulang Waktu Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar