Jika Aku Bisa Mengulang Waktu
Yohan Dwi Apriyanto
Di lubuk hati setiap manusia, selalu ada
sebuah ruang gelap yang menyimpan mesin waktu imajiner. Sebuah ruang di mana
kita sering kali duduk terdiam, memutar kembali rekaman masa lalu, lalu
berbisik lirik pada diri sendiri: *"Andai saja aku bisa kembali ke momen
itu."* Kita adalah sekumpulan penyintas yang kerap kali dihantui oleh
keputusan-keputusan keliru, kata-kata yang telanjur terucap, atau kesempatan
emas yang menguap begitu saja karena ketakutan kita. Di sepanjang perjalanan
hidup hingga tahun 2026 ini, saya pun tidak luput dari ritual sunyi tersebut.
Ada satu fragmen waktu dalam hidup yang bertahun-tahun ingin saya renggut
kembali dari masa lalu. Jika aku bisa mengulang waktu, aku ingin kembali ke sebuah
sore beberapa tahun yang lalu. Sore di mana saya berdiri di sebuah persimpangan
pilihan karier dan kehidupan yang krusial. Saat itu, ketakutan akan kegagalan
begitu mencengkeram isi kepala saya. Saya dihadapkan pada pilihan untuk keluar
dari zona nyaman, mengambil risiko besar demi mengejar panggilan jiwa, atau
tetap bertahan di tempat yang aman namun perlahan mematikan kreativitas saya.
Sifat penakut saya memenangkan pertempuran hari itu. Saya memilih jalan yang
aman, memilih untuk tidak melangkah, dan membiarkan impian saya terkubur di
bawah tumpukan alasan yang tampak logis. Dampaknya tidak langsung terasa dalam
semalam. Namun, bulan-bulan berikutnya bertransformasi menjadi rentetan hari
yang dipenuhi oleh sinisme dan penyesalan yang menggerogoti jiwa. Setiap kali
melihat orang lain melompat berani menuju impian mereka, ada rasa sesak yang
hadir di dada saya. Saya menyalahkan keadaan, menyalahkan waktu, dan yang
paling parah, saya membenci diri saya yang penakut. Saya terjebak dalam
lingkaran setan *analysis paralysis*, meratapi garis takdir yang sebenarnya
saya pilih sendiri dengan penuh kesadaran. Selama bertahun-tahun, andai-andai
itu menjadi penjara mental saya. Aku mengulang-ulang skenario di dalam kepala:
*Jika aku mengambil kesempatan itu, mungkin sekarang aku sudah berada di tempat
yang berbeda. Jika aku lebih berani, jalanku pasti lebih cerah.* Saya begitu
sibuk menatap spion masa lalu hingga saya mengabaikan kaca depan kehidupan yang
membentang luas. Saya lupa bahwa selagi saya sibuk meratapi waktu yang hilang,
waktu yang baru terus berjalan dan terbuang sia-sia. Titik balik itu akhirnya
datang bukan dari peristiwa yang besar, melainkan dari sebuah kesadaran diri
yang mendarat secara halus di suatu malam yang sepi. Saya menyadari bahwa mesin
waktu imajiner yang saya rawat selama ini adalah sebuah kebohongan yang kejam.
Waktu adalah satu-satunya hukum alam yang bersifat absolut dan searah; ia tidak
mengenal tombol mundur. Menghabiskan energi hari ini untuk mengutuk hari
kemarin adalah sebuah kesia-siaan tertinggi yang bisa dilakukan oleh seorang
manusia. Pada momen itulah, saya memutuskan untuk berdamai. Saya melihat
kembali diri saya yang penakut di sore beberapa tahun lalu itu, bukan lagi
dengan kemarahan, melainkan dengan rasa maklum dan empati. Diri saya yang dulu
mengambil pilihan aman karena itulah kapasitas terbaik yang ia miliki saat itu
untuk melindungi dirinya dari luka. Ia tidak bersalah; ia hanya belum tahu cara
untuk berani. Sekarang, saya memahami sebuah rahasia penting tentang hidup.
Kita memang tidak akan pernah bisa memutar kembali jarum jam untuk mengubah
awal cerita kita yang berantakan. Namun, kita selalu memiliki hak penuh untuk
memegang pena hari ini dan menuliskan akhir cerita yang sama sekali berbeda.
Langkah kecil untuk berhenti menyesali masa lalu ternyata adalah tuas pengubah
hidup yang sesungguhnya. Ketika saya berhenti menuntut masa lalu untuk berubah,
seluruh energi negatif itu bergeser menjadi bahan bakar untuk membangun
keberanian baru di masa sekarang. Melalui tulisan dalam antologi nasional ini,
saya ingin memeluk setiap pembaca yang mungkin saat ini sedang duduk di ruang
gelap yang sama, meratapi kata "andai" yang melelahkan. Jika Anda
saat ini sedang berandai-andai bisa mengulang waktu untuk memperbaiki kesalahan
masa lalu, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Namun, ingatlah bahwa detik
ini—saat Anda sedang membaca kalimat ini—adalah "masa lalu" dari masa
depan Anda beberapa tahun yang akan datang. Jangan biarkan diri Anda di
tahun-tahun mendatang kembali meratap dan berkata, *"Andai aku mulai
bergerak di tahun 2026."* Berhentilah merawat penyesalan. Pengulangan
waktu terbaik tidak terjadi dengan kembali ke masa lalu, melainkan dengan
mengambil langkah kecil yang berani pada hari ini, menit ini, dan detik ini
juga. Hiduplah di sini, melangkahlah dari sini, dan bangunlah sebuah masa depan
yang membuat diri Anda di masa depan tersenyum tanpa perlu lagi berandai-andai.
Dan terniang :
Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika
Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa
Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika
Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa
Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika
Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa
Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika
Aku Bisa Mengulang WaktuJika Aku Bisa Mengulang Waktu Jika Aku Bisa Mengulang
Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku
Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang Waktu, Jika Aku Bisa Mengulang
Waktu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar