Selasa, 02 Juni 2026

BEASISWA LPDP RI

KOMITMEN KEMBALI KE INDONESIA

Rumah adalah bentuk sederhana dari dunia yang luas dan penuh dengan sesaknya masalah di dalamnya. Bagi saya rumah adalah tempat terbaik kedua setelah kuburan manusia, karena saya mengukur suatu kenyamanan kepada tempat diukur berapa lama kita menempatinya, jika kita mengaku nyaman seyogyanya kita pasti lama menghuni sesuatu yang dirasa nyaman itu. Hal pertama yang saya sampaikan adalah bahwa rumah saya tidak hanya ruangan tidur, ruangan makan, ruangan mandi, ruangan tamu, dan ruangan lainnya, tapi bagi saya rumah itu adalah Indonesia. Indonesia sebagai rumah bagi saya dengan begitu bila suatu ketika ada pihak entah itu siapa dan dimana dengan janji apapun kepada saya, lalu dia mengintervensi saya dengan hal-hal yang melemahkan kenyamanan saya dirumah (Indonesia) saya ini, tegas saya sampaikan, 100 juta Gulden pun saya mendapat warisan di wilayah luar rumah saya, dan hanya Rp. 10.000, warisan di wilayah rumah saya, atas nama Tuhan Y.M.E saya lebih memilih miskin dan berada di rumah saya sendiri karena saya percaya tidak ada rumah yang tidak mengingkan penghuni rumahnya kelaparan dan penuh kemeskinan. Dengan itu saya menyampaikan bahwa kesuksesan dirumah sendiri adalah bagian dari tanggung jawab semua penghuni rumah, maka dari itu jangan takut kembali ke rumah (Indonesia).

RENCANA PASCA STUDI,

Saya dan keluarga termasuk sering menggunakan mobil, sepeda motor untuk keperluan perjalanan luar kota karena harganya yang terjangkau dan akomodasinya yang mudah. Dalam perjalanan di dalam kereta api tersebut, saya sering memandang ke luar jendela dan terlihatlah sawah-sawah membentang luas. Selain itu pula terlihat perumahan-perumahan sederhana di sekitar sawah yang nampak berasal dari kalangan bawah. Di saat-saat itulah saya, di setiap kali melihat pemandangan sawah di kereta api merenung. Dengan fasilitas yang telah Allah SWT berikan kepada masyarakat Indonesia berupa sawah ladang yang luas terbentang dan dengan potensi kesuburan yang tinggi sehingga bisa ditanam oleh apapun – banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran saya. Mengapa Indonesia masih saja mengimpor beras, kedelai, gula, dan bahan-bahan makanan pokok lainnya yang sebenarnya bahan-bahan makanan pokok itu masih bisa ditanam di tanah kita sendiri; mengapa Indonesia begitu tergantung pada negara lain; mengapa begitu sulit untuk menjadi negara yang independen. Miris dan sedih hati saya. Saya bukanlah lulusan pertanian atau perkebunan, juga bukanlah seorang pengambil kebijakan strategis di bidang tersebut. Hanya saja, saya terus menerus merasa prihatin sambil terus bertanya-tanya, apa akar masalahnya? Apa yang bisa saya lakukan? Sebenarnya, “ketidakmandirian” ini terjadi bukan hanya di bidang pertanian dan perkebunan saja. Tapi hampir di seluruh bidang. Mungkin peribahasa ini tepat untuk Indonesia: Knowledge and Resources is Power but Character is More. Saya menyadari bahwa karakter-karakter unggul seperti mandiri, berintegritas, jujur, pantang menyerah, berkeinginan maju, kreatif, ikhlas (hanya bergantung kepada Allah), sabar dan mampu menahan diri; adalah karakter-karakter yang seyogyanya dimiliki oleh bangsa ini jika kita ingin menjadi bangsa yang maju. Perubahan karakter inilah yang saya impikan terjadi di Indonesia, yaitu bangsa Indonesia yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada negara lain. Kemandirian yang tidak hanya di mulut saja, tetapi kemandirian yang diwujudkan dengan berhentinya mengimpor bahan-bahan baku dari luar negeri. Kemandirian yang terimplementasi dengan berhentinya menambah utang demi utang luar negeri. Kemandirian yang termanifestasi dalam kemampuan memproduksi infrastruktur dan berbagai device teknologi untuk bangsa kita sendiri. Kemandirian yang terlihat dari berjamurnya start-up di Indonesia yang mempekerjakan tenaga berlimpah dari dalam negeri, bukan dari luar negeri. Sebagai kesimpulan, rencana saya pasca studi ini memperbaiki karakter bahwa rumah (Indonesia) kita ini adalah suatu wadah yang tidak bisa dimajukan dengan uang dan produksi bermacam-macam industri saja, tetapi rumah (Indonesia) kita ini bisa maju dan berjiwa merdeka ketika bangsanya sudah hidup dengan karakter merdeka bertoleransi bukan bertoleransi merdeka.

RENCANA KONTRIBUSI DI INDONESIA

Manusia adalah makhluk yang kecil dan lemah. Sesungguhnya kita tidak mampu melakukan perubahan apapun tanpa pertolongan Allah SWT. Namun pertolongan Allah SWT juga tidak akan datang pada suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha keras mengubah apa-apa yang ada di dalam dirinya dan apa-apa yang ada di bawah kekuasaan dan kendalinya. Dengan kelemahan yang kita – sebagai manusia – miliki, menurut saya, kita tidak perlu menunggu mendapatkan peran lain selain peran yang telah kita miliki saat ini untuk melakukan sebuah perubahan. Perubahan sekecil apapun bisa dilakukan dimulai dari sekarang, dimulai dari yang terkecil, terdekat, terdalam – yaitu diri sendiri. Dengan peran yang saya miliki saat ini, yaitu sebagai satu-satunya dan anak pertama dari keluarga besar saya yang berstatus sarjana, saya berusaha untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain terkait sumber pencaharian. Walaupun keluarga berkontribusi besar terhadap nafkah kami sebagai anak, saya berusaha untuk juga bisa menghasilkan uang sendiri dan memenuhi sebagian kebutuhan sendiri. Untuk adik-adik saya, biaya pendidikan non-formal ditanggung oleh saya, bukan oleh orang tua. Selain itu, saya beserta keluarga berusaha untuk tidak bergantung pada utang bank untuk membeli rumah dan mobil walaupun berutang ke bank syariah. Sehingga, tabungan yang kami miliki diputar terus menerus melalui investasi syariah agar tetap mengimbangi kenaikan harga properti. Apakah ada hubungannya? Insya Allah ada. Dengan usaha-usaha kecil seperti itu, saya harap bisa terbangun mental yang mandiri dan independen di dalam diri saya dan keluarga saya. Setelah itu, peran saya lainnya saat ini adalah sebagai pendidik online. Saya berusaha untuk disiplin dan berintegritas dengan memenuhi kewajiban saya sebagai pendidik semaksimal mungkin. Tepat waktu dan tidak curi waktu, dan bahkan memberi lebih dari yang dibutuhkan. Jika berjanji, maka akan saya catat dan saya berusaha keras memenuhi janji sekecil apapun. Sebagai pendidik, saya juga berusaha jujur untuk mengatakan tidak tahu untuk hal-hal yang memang tidak saya ketahui. Dengan peran sekecil apapun yang saya jalani saat ini, saya harap mental mandiri, jujur, berintegritas dan disiplin terus terjaga dan mengkarakter di dalam diri saya. Dengan mengajar online kepada siswa-siswa kelas saya, saya harap saya bisa ikut berkontribusi untuk terus memperbaiki pandangan masyarakat tentang Indonesia sebagai suatu negara yang pancasila. Setelah itu, jika Allah SWT mengizinkan saya untuk mendapatkan beasiswa studi lanjut, maka peran dan kontribusi selanjutnya yang akan saya ambil adalah sebagai pendidik mahasiswa (dosen). Saya akan berusaha membantu mencetak lebih banyak lagi sarjana yang berkarakter dan berjiwa merdeka bertoleransi. Lalu, jika Allah SWT mengizinkan saya untuk mendapatkan beasiswa studi lanjut, maka saya juga bercita-cita untuk mengajar dan mengabdi di bidang sosial dan teknologi di Indonesia. Diharapkan peran ini akan membantu saya untuk tetap keep up dengan perkembangan dan implementasi teknologi saat ini. Diharapkan juga, ilmu yang saya miliki dapat terimplementasi di dalam kehidupan masyarakat sehingga dapat membantu mengembangkan industri teknologi dalam negeri. Ilmu dapat dipraktekkan, kualitas mengajar meningkat, secara langsung maupun tidak langsung juga membantu perkembangan ekonomi berbasis inovasi di Indonesia.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar